Yang mengaku Pemimpin
Hiruk pikuk pilkada di negeri ini semakin seruuuu, ramai-ramai saling berteriak kencang bahwa “mereka” yang paling layak memimpin, belum lagi menorehkan prestasi namun hujatan untuk menyalahkan orang lain sudah deras mengalir bak air BAH.
Mereka pasang wajah nan mengumbar seyuman memikat, dan sanggup memberikan maklumat hanya “mereka” yang pantas “diangkat” menjadi wakil rakyat.
berkacalah kepada cara kita milih “imam” dikala sholat, makmum tahu mana yang paling memenuhi syarat. Walaupun demikian tak semena-mena yang mampu langsung nyelonong ke depan, sudah menjadi kebiasaan saling menawarkan dan mengikhlaskan siapa yang akan memimpin.
Telinga Hati
Ketika lidah Mu berkata kau dapat mendengarkan, karna dia ber suara
ketika hati Mu berkata kau tak dapat mendengarkan karena dia tak bersuara
Engkau mendengarkan dengan kedua telinga Mu
Telinga Mu tak dapat menjangkau hati Mu, karena suara Hati Mu
hanya dapat didengar oleh Hati Mu sendiri
ada apa “karakter” Indonesia-2
Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, watak, budipekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, atau kita juga mengenalnya dengan ”Akhlak”. Adakah sesuatu yang salah dengan tingkah laku kita yang pada akhirnya membentuk karakter yang salah pada bangsa ini, sehingga sudah terasa begitu sulit bagi kita mendapatkan rasa aman, damai di dalam negeri kita sendiri. Manakalah dimana-mana kita melihat kebrutalan, kekejaman, pengrusakan, huru- hara dengan berbagai macam bentuk kekerasan. Dengan alasan demokrasi atau membela hak hak yang selama ini tertindas katanya, lantas segala cara apapun dihalalkan untuk ditempuh walaupun sudah menembus batas-batas demokrasi dan prikemanusian.Karakter bangsa yang kita punya adalah ramah tamah, sopan santun, tepo sliro, gotong royong inipun sudah mulai pupus ditelan waktu, dan mulai terkoyak-koyak karena dorongan ekonomi yang terus menerus menghimpit negeri ini. Hal ini seiring dengan prilaku kita yang sudah jauh menyimpang dari karakter bangsa ini, dan mulailah bangsa ini menuai balak bencana yang berdatangan silih berganti, krisis ekonomi berkepanjangan, krisis kepercayaan kepada pemerintah tak terelakkan. Nabi Muhammad SAW dikenal dengan julukan ”AL-Amin” artinya adalah orang yang jujur dan tidak satupun yang menyangsikannya termasuk para musuh-musuh beliau dan dalam Qs. Al-Qalam :4 Allah SWT berfirman ”
Bicara tentang Karakter, kita akan bicara tentang Akhlak=Moral. 1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad SAW telah menyampaikan ”Sesungguhnya Aku di utus utamanya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia”. Dari sini kita mendapatkan gambaran bahwa betapa pentingnya pembangunan akhlak (karakter) tersebut bahkan menjadi bagian utama dari pembangunan yang lainnya, hal inipun sejalan dengan lagu kebangsaan kita ”Indonesia Raya” …..bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya…..Nah sekarang bagaimana dengan pembangunan manusia indonesia ? apakah kita mengedepankan nilai-nilai moral/akhlak seperti yang diinginkan lagu ”Indonesia Raya” itu ? dan mengapa karakter yang dimiliki bangsa ini masih belum dapat diandalkan untuk membangun harkat dan martabat bangsa ini ?
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمSesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang Agung”.
ejujuran adalah karakter yang telah membentuk kepribadian Rosul Muhammad yang dibangun dari sifat-sifat beliau yang terkenal dengan ”FAST” (Fathonah = cerdas, Amanah = dapat dipercaya, Sidik = benar, dan Tabligh = menyampaikan), Berbicara karakter manusia yang dapat membedakan seseorang dengan yang lainnya, maka tak pelak lagi telinga kita selalu mendengar kata kata ”KOMPETENSI” , dari dunia pendidikan sampai dunia usaha disibukan dengan ”Kompetensi” tersebut namun apa sebenarnya / hakekatnya kompetensi tersebut.
Spencer (1993) mendefinisikan kompetensi “an underlying characteristic of individual that is causally related to criterion-referenced effective and/or superior performance in a job or situation” (hlm. 9). Sebagai karakteristik individu yang melekat kompetensi merupakan bagian dari kepribadian individu yang relatif dalam dan stabil dan dapat dilihat dan diukur dari perilaku individu yang bersangkutan di tempat kerja atau dalam berbagai situasi.
Sekarang mari kita lihat dua model “karakter” yang dikutip dari Bapak Dr.Ir. Djoko Siswanto. MPA Konsultan dari ITB yang menggambarkan bahwa kompetensi yang ramai diperbincangkan selama ini adalah baru pada tatanan luar saja sehingga wajar kalau pembenahan masalah kompetensi ini menjadi sulit, karena masalah yang selama ini kita otak-atik adalah permukaan gunung es nya saja sedangkan akar masalah sesungguhnya adalah “KARAKTER / AKHLAK itu sendiri.
Nah sekarang bagaimana sikap kita terhadap permasalahan SDM kita yang sesungguhnya melanda bangsa ini, tentunya kita sangat butuh pendidikan yang mengedepankan Budi Pekerti / Akhlak, Motivasi dan Nilai-Nilai luhur manusia yang tercermin dalam suara Hati Ilahiah. Nilai-nilai luhur sebagai manusia (Khalifah) sebagai penyandang amanah untuk memelihara dan mensejahterahkan alam raya (bumi) sesuai dengan keinginan dan petunjuk “ALLAH” yang memberikan amanah itu sendiri .Setiap hari kita meminta petunjuk “Tunjukanlah kami Jalan Yang Lurus” dan petunjuk itu sudah ada di depan mata kita “yaitu :
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيه ِِ هُدى ً لِلْمُتَّقِينَ
Inilah kitab yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya yang menjadi petunjuk bagi orang yang bertakwa.
Spiritual Leadership-1
pembicaraan mengenai spiritualitas di tempat kerja telah menjadikan perhatian yang tinggi dikalangan organisasi keilmuan, sehingga semenjak akhir tahun 80an terjadi pergeseran fokus dari teori kepemimpinan behavioural contigency menuju kepemimpinan strategis yang menekankan visi, motivasi dan pengendalian melalui nilai-nilai atau budaya di dalam kelompok yang adaptif terhadap perubahan lingkungan organisasi.
Dari berbagai penelitian diketahui bahwa pengembangan spiritualitas di tempat kerja berpengaruh positif terhadap sikap dan perilaku kerja para karyawan. Antara lain menyangkut kepuasan kerja, komitmen, motivasi, keterlibatan kerja, inovasi, dan produktivitas. Hal-hal tersebut sangat penting bagi efektivitas organisasi secara keseluruhan
Spirituality adalah yang berhubungan dengan kualitas dalam diri manusia seperti cinta kasih, toleransi kesabaran, memaafkan, kepuasan, perasaan bertanggungjawab, perasaan kesesuaian dan utuh yang memberikan kebahagiaan.
Sehingga menurut LW. Fry Kepemimpinan Spiritual itu adalah “ merupakan suatu kumpulan nilai-nilai, sikap dan perilaku yang diperlukan untuk memotivasi diri sendiri maupun orang lain secara intrinsik, sehingga masing-masing memiliki perasaan tangguh bertahan yang bersifat spiritual melalui keanggotaan dan keinginan sendiri.Efek dari kepemimpinan spiritual menimbulkan rasa pengertian/ kebersamaan bagi pemimpin spiritual dan pengikutnya dalam menciptakan nilai kesejahteraan yang strategis, pemberdayaan team,peningkatan level individu, meningkatkan tingkat kesehatan bagi karyawan, komitmen organisasi dan produktivitas dan performance organisasi.
Kepemipinan spiritual itu memerlukan dua hal :
1. Penciptaan visi sehingga anggota-angota organisasi mengalami suatu perasaan terpanggil (sehubungan dengan pekerjaan) memiliki makna dalam hdiupnya, dan merasakan suatu keunikan.
2. Menegakkan suatu budaya sosial/organisasi yang berdasarkan cinta alturistik (tanpa pamrih pribadi) dimana para pemimpin dan anggota anggotanya memiliki perhatian, kepedulian dan pengharagaan yang tulus satu sama lain sehingga menghasilkan suatu rasa keanggotaan dan rasa dipahami dan dihargai.
Dependen variabel yang diukur dalam ekplorasi study kepemimpinan LW Fry adalah :
1. Meaning/calling = Nilai / keterpanggilan hati
2. Organizational commitmen = komitmen dalam berorganisasi
3. Productivity = produktivitas
4. Persentage sales growth = persentase pertumbuhan penjualan
5. Distributor profit = keuntungan distribusi
Dari hubungan-hubungan antara variabel tersebut dibuat hypotesa, yaitu sbb :
KOMITMEN BEROGANISASI = Karyawan dengan suatu perasaan keterpanggilan sebagai anggota organisasi akan tetap menyatu untuk setia , dan ingin tinggal di dalam organisasi yang mempunyai kultur berdasar pada nilai-nilai cinta yang rendah hati (altruistic love)
PRODUKTIVITAS DAN PERBAIKAN TERUS MENERUS = karyawan yang mempunyai keyakinan dan harapan di dalam visi organisasi dan penglamanan keterpanggilan sebagai anggota perusahaan akan “melakukan apa yang menjadi tugasnya” dan mengejar visi untuk terus menerus berimprovisasi and menjadi lebih produktive.
KEUNTUNGAN DAN PERTUMBUHAN PENJUALAN = komitmen yang tinggi dari karyawan yang produktip yang mana telah termotivasi untuk berimprovisasi terus menerus merupakan proses kunci organisasi yang juga akan memotivasi produksi dengan kualitas produk yang tinggi, pelayanan kepada pelanggan yang prima akan terepleksikan di dalam keuntungan perusahaan yang tinggi dan peningkatan penjualan.
Ada apa “karakter” bangsa Indonesia-1
Negeri ini dikenal oleh bangsa-bangsa luar dari dua sisi , sisi yang pertama adalah Fisik [jasmani] yaitu berupa Kekayaan, Keindahan dan kesuburan alam, tak salah lagi sampai-sampai dilukiskan sebagai hamparan zamrud di khatulistiwa dan penulis yakin para pembaca mungkin masih ingat dan terngiang syair dari sebuah lagu ”orang bilang tanah kita tanah sorga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Sisi yang kedua adalah Non Fisik [karakter] Bangsa Indonesia yang dikenal dengan keramahtamahan, sopan santun dan semangat gotong royong sehingga karakter-karakter tersebut membentuk budaya bangsa ini. Dari kedua sisi tersebut manakah yang lebih penting ? Fisik [jasmani/raga] atau Non fisik [rohani/jiwa/karakter]. Ternyata kekayaaan, keindahan dan kesuburan alam tersebut yang merupakan sumberdaya fisik kita tidak cukup untuk membawa kemakmuran kepada bangsa ini. Ketika masyarakat menjerit karena sulitnya mendapatkan beras dan hanya dapat menikmati nasi ’aking’ (yang tadinya untuk makan hewan peliharaan) karena harga beras sudah tidak terjangkau lagi oleh mereka seiring itu pula beras menghilang dipasaran dan betapa pilu hati melihat berjubel-jubelnya rakyat antrian untuk sekedar mendapatkan 5 liter minyak tanah, dan hiruk pikuknya desak-desakan untuk mendapatkan ”Bantuan Langsung Tunai”, kemana negeri yang subur, makmur, dan kaya raya itu.
Sementara itu negeri yang dikenal dengan keindahan alamnya inipun terus menerus diporak porandakan oleh berbagai macam bencana; angin topan, banjir, tsunami, tanah longsor sampai-sampai lumpur Lapindo, tidak cukupkah semua ini untuk kita mempertanyakan Ada Apa Dengan Indonesia ? Mari kita renungkan apakah ini jawaban dari semua yang kita alami ini, Allah SWT menjelaskan dalam Alquran surat Al-Araaf [7]:96,artinya : Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya
Dari ayat tersebut kita dapat melihat bawah titik tolak dari semua yang kita alami ini adalah Perbuatan kita. Bagaimana proses seseorang itu sampai dapat melalukan suatu tindakan (perbuatan) dalam kehidupan sehari hari yang pada akhirnya dapat menjadikan karakter bagi diri seseorang. Dalam Teori Belief System diuraikan bahwa awal tindakan berasal dari pikiran, kemudian terucap, lalu menjadi perbuatan kemudian perbuatan berlangsung berulang-ulang dan menjadi kebiasaan, dan akhirnya kebiasaan inilah yang menjadi karakter.
Hati bicara1
Seberapa yang anda tanam, sedemikan pula yang anda panen
setiap menanam belum tentu memanen, tetapi lebih baik menanam dari pada memikirkan panen
Kompetensi “Bismillah” utama
|
Suatu saat saya terfikir mengapa Rosulullah SAW mengatakan dalam suatu hadist “Apabila suatu pekerjaan yang kamu anggap baik, tidak dimulai dengan Bismillah, maka tidak akan mendapat berkah dari Allah SWT” dalam hati terus bertanya-tanya pastilah ada sesuatu yang sangat istimewa dalam untaian kalimat itu sehingga Allah dan Rasul-Nya mensyariatkan kepada kita semua untuk memulai segala aktivitas sehari-hari dengan membaca.
|
|
Dalam pencarian makna itu tiba-tiba sayapun kembali teringat sebuah hadist yang mengatakan “Apabila sesuatu pekerjaan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran” lantas sepintas saya mempunyai keyakinan bahwa kalimat inilah sebenarnya yang menjadi cikal bakal dari apa yang disebut dengan “KOMPETENSI” yang sekarang ini sedang hangat hangatnya dibicarakan oleh banyak kalangan, baik di organisasi perusahaan maupun dalam kalangan lembaga pendidikan.
Keyakinan itu rasanya cukup beralasan karena menurut hemat saya dunia islam sudah jauh-jauh sebenarnya menerapkan kompetensi, hal ini dibuktikan dengan adanya aturan persyaratan yang harus dipenuhi apabila kita hendak memilih Iman di dalam Sholat, yaitu : (1) yang paling menguasai bacaan kitabullah; (2) yang menguasai As-Sunah; (3) yang lebih dahulu hijrahnya; (4) yang lebih dahulu islamnya. (Ibnu Rusyd; bidayatu’l mujtahid).
Apabila kita rujuk kembali pengertian dari kompetensi (gampangnya : kemampuan seseorang untuk dapat melakukan sesuatu pekerjaan) maka dengan demikian jelas bahwa persyaratan di dalam penentuan sholat itupun adalah kompetensi.
HUBUNGAN KEDUA HADIST
Sekarang bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kedua hadist tersebut saling berhubungan erat dengan kompetensi, tentunya perlu penjelasan (break down) lanjutan disertai dengan implikasinya bagi orang-orang yang telah menerapkannya.
Hadist “Apabila sesuatu pekerjaan yang tidak diserahkan kepada ahlinya maka tunggulah kehancuran” , artinya bahwa apabila kita ingin mengerjakan sesuatu (bidang pekerjaan) dan kita menginginkan hasil yang memuaskan dari pekerjaan tersebut maka kita dituntut untuk tahu, mengerti dan paham sampai akhirnya kita dikatakan ahli dalam bidang tersebut dan apabila bidang pekerjaan tersebut dilakukan oleh orang yang belum mengerti/paham maka tentunya hasilnya tidak akan pernah memuaskan dan bahkan kehancuran yang akan diterima.
Hubungan hadist yang pertama dengan Hadist “ Apabila suatu pekerjaan tidak dimulai dengan Basmallah, maka tidak akan mendapat berkah dari Allah SWT” hal ini mengisyaratkan bahwa yang pertama kali harus kita miliki dalam melaksanakan aktivitas dalam berbagai bidang pekerjaan, sampai kita menjadi ahlinya, haruslah kita memiliki kompetensi yang berasal dari “Basmallah” itu, jadi bukan hanya sekedar mengucapkannya saja.
Tulisan ini akan saya teruskan dengan berdasarkan kepada studi literatur yang ada (tidak melakukan pembuktian dengan survey-survey) yang menurut hemat saya sudah saling menunjang kebenaran dari hadist tersebut.
CERITA SUFI DAN “ CILUUUUK BAA”
ASMAUL HUSNA DALAM “BASMALLAH”
Dari ayat yang pertama kali menarik pandangan saya dari sisi pembahasan kompetensi adalah mengapa Asma Allah yang disebutkan/dijelaskan adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim bukan yang lainnya, sebagaimana kita ketahui “Asma Allah” yang kita kenal dengan Asmaul Husna itu ada 99 nama.
Menurut para ulama pengertian ”Basmallah” sangatlah luas dan mencakup seluruh ilmu sehingga saya tidak akan mengutipnya secara lengkap, namun sebagai referensi dapat saya sebutkan pendapat dari : Ibnu Araby dalam Kitab Tafsir Tasawufnya, “Tafsirul Qur’anil Karim” menegaskan, bahwa dengan (menyebut) Asma Allah, berarti Asma-asma Allah Ta’ala diproyeksikan yang menunjukkan keistimewaan-nya, yang berada di atas Sifat-sifat dan Dzat Allah Ta’ala. Sedangkan wujud Asma itu sendiri menunjukkan arah-Nya, sementara kenyataan Asma itu menunjukkan Ketunggalan-Nya.Allah itu sendiri merupakan Nama bagi Dzat (Ismu Dzat) Ketuhanan. dari segi Kemutlakan Nama itu sendiri. Bukan dari konotasi atau pengertian penyifatan bagi Sifat-sifat-Nya, begitu pula bukan bagi pengertian “Tidak membuat penyifatan”.“Ar- Rahman” adalah predikat yang melimpah terhadap wujud dan keparipurnaan secara universal. menurut relevansi hikmah. dan relevan dengan penerimaan di permulaan pertama.“Ar-Rahiim” adalah yang melimpah bagi keparipurnaan maknawi yang ditentukan bagi manusia jika dilihat dari segi pangkal akhirnya. Karena itu sering. disebutkan, “Wahai Yang Muha Rahman bagi Dunia dan akhirat, dan Maha Rahim bagi akhirat”.
Syaikh Mutawalli Sya’rawi, seorang guru besar pada universitas Al-Azhar, ulama kontemporer dan pakar bahasa menyebutkan dalam tafsirnya tentang keistimewaan lafadz Allah ; “Lafadz Allah selalu ada dalam diri manusia, walaupun ia mengingkari wujud-Nya dengan ucapan atau perbuatannya. Kata ini selalu menunjuk kepada Dia yang diharapkan bantuan-Nya itu. Perhaitkanlah kata Allah. Bila huruf pertamanya dihapus, maka ia akan terbaca Lillah yang artinya “demi/karena Allah”. Bila satu huruf berikutnya dihapus, akan terbaca lahu, yang artinya untuk-Nya. Bila huruf berikutnya dihapus, maka ia akan tertulis huruf ha yang dapat dibaca hu (huwa) yang artinya Dia”. (Syarifudin Musthafa, MA)
Dalam tulisan ini saya membatasi dari sudut pandang motivasi spiritual yang berhubungan dengan kompetensi, sehingga nantinya didapatkan gambaran bahwa betapa ayat Basmallah itu mencakup seluruh kompetensi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya.
KOMPETENSI DARI “ASMAUL HUSNA”
Dengan nama Allah dalam “Basmallah” mengisyaratkan bahwa hanya dengan nama Allah saja segala sesuatu ada dan dapat terjadi, nama Allah “Asmaul Husna” yang meliputi segala sesuatu Yang Maha Kompeten itulah yang mesti kita gali sebagai dasar/landasan dalam melakukan aktivitas, dengan kata lain apabila kita tidak mempunyai atau menggunakan “Asmaul Husna” sebagai kompetensi maka kita tidak akan ada daya upaya apa-apa dalam aktivitas kehidupan. “La haula wala quwwata illa billah
ثُمَّ سَوَّاه ُُ وَنَفَخَ فِيه ِِ مِنْ رُوحِه ِِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ قَلِيلا ً مَا تَشْكُرُونَ
(QS. As-Sajadah 032:009 ) Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
Sifat-sifat dasar manusia yang dibawa sejak lahir merupakan karunia yang besar dari Allah SWT, namun sayangnya sifat-sifat itu tidak tergali/muncul karena selama ini kita sudah terbelenggu dengan fenomena kecerdasaan “IQ” dan akhirnya dunia barat pun mencari-cari sesuatu yang misterus dalam diri manusia yang dapat menjadikan seorang sukses berbeda dengan yang lainnya, kemudian hasil dari pencarian itu mereka perkenalkan dengan istilah “SPIRITUALITY”
Berdasarkan pada beberapa hasil kajian tentang Spirituality (Danah Zohar & Ian Marshall, Michael Levin, Louis W Frey, Yongi Chow dll) sifat-sifat yang mendasari spiritulity tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sifat turunan dari “Asmaul Husna”
Dari sudut pandang Kompetensi “Asmaul Husna” itu meliputi Hard competency (kompetensi Teknis) dan Soft Competency (kompetesi prilaku) sebagai contoh dapat saya sebutkan beberapa contoh :
- Yaa Cholik = Yang Maha Menciptakan
Turunan kompetensinya berupa inovasi dan kreatifitas
- Yaa Muhaimin = Yang Maha Memelihara
Turunan kompetensinya berupa pengetahuan tentang alat, kemampuan teknis dalam perbaikan alat.
- Yaa Muqtadir = Yang Maha Menentukan
Turunan kompetensinya berupa : Tingkat kewenangan / otorisasi
- Yaa Haadii = Yang Maha Memberi Petunjuk
Turunan kompetensinya berupa : keahlian dalam membuat SOP
- Yaa Baa’its = Yang Maha membangkitkan
Turunan kompetensinya berupa: kemampuan mengarahkan / memotivasi
Sekarang dari sekian banyak kompetensi yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya sebenarnya kompetensi mana yang paling utama yang harus dimiliki, sehingga dengan kompetensi utama itu maka kompetensi-kompetensi yang lain akan dapat dijadikan sebagai penunjang.
Kembali ke ayat maka kompetensi utama yang terpilih adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Menurut uraian dari Syarifuddin Mustafa, MA dalam tulisannya “Keagungan Bismillah” bahwa Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang keduanya terambil dari akar kata yang sama Rahm dipilih karena sifat itulah yang paling dominan. Dalam hal ini Allah dalam Al-Quran menegaskan “Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu”. (QS 7: 156). Sebuah hadits Qudsi menyebutkan bahwa rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya.
Besarnya rahmat Allah inipun digambarkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim yang berasal dari Abu Hurairah “Allah SWT menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan dan diturunkan-Nya ke bumi itu satu bagian. Satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk. (begitu ratanya sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih sayang, khawatir jangan sampai menginjak anaknya”.
KOMPETENSI DARI “AR-RAHMAN” DAN “AR-RAHIM”
Kata Rahman ( ) adalah merupakan sifat kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya yang diberikan di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya, maka sesuai dengan rahmat Allah itu, maka hendaklah manusia menaruh rasa belas kasih kepada sesama makhluk.
Kata Rahim ( ) diberikan secara khusus oleh Allah kelak nanti dialam akhirat yaitu hanya bagi mereka yang beriman dan mensyukuri segala kenikmatan yang telah dianugrahkan kepada mereka. Kasih sayang-Nya secara khusus diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang mengabdikan dirinya kepada Allah dan yakin bahwa semua kenikmatan adalah bersumber dari Allah. Bahkan yakin bahwa segala amal ibadahnya, perbuatan baiknya tidak akan menjamin akan dirinya masuk ke surga-Nya kecuali karena Rahmat-Nya.
Dari kata Rahman-Rahim yang terambil dari akar kata yang sama Rahm didapatkanlah Konsep Kompetensi utama yang dibutuhkan oleh manusia yaitu : kasih sayang dan melayani.
Al-Faqih dalam Tanbihul Ghafilin kata Nu’man Basyir di dalam khutbahnya, sesudah bersyukur kepada Allah: “aku mendengar Rasul SAW, bersabda : “ Umat Islam hendaknya saling nasehat menasehati, dan saling mengasihi dan menyayangi di antara mereka, bagaikan satu tubuh, jika sebagian terasa sakit, maka semua anggota tubuh merasakannya, hingga tidak dapat tidur, sampai sembuh sakitnya” (al-hadits).
Apabila merujuk kepada kompetensi yang dibuat oleh Spencer-Spencer (1993), maka paling tidak menurut hemat kami, Ar-Rahman dan Ar-Rahim itu akan mewakili beberapa kompetensi yang ditawarkan oleh Spencer tersebut yaitu a.l :
1. Customer Service Orientation
Keinginan untuk menolong atau melayani pelanggan/ orang lain. Pelanggan adalah pelanggan aktual atau pengguna akhir dari organisasi yang sama
2. IMPACT AND INFLUENCE
Tindakan membujuk, meyakinkan, mempengaruhi atau mengesankan sehingga orang lain mau mendukung agendanya
3. RELATIONSHIP BUILDING
Besarnya usaha untuk menjalin dan membina hubungan sosial atau jaringan hubungan sosial agar tetap hangat dan akrab
4. DEVELOPING OTHER
Keinginan untuk mengajarkan atau mendorong pengembangan orang lain
5. TEAM WORK
Dorongan dan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, menjadi bagian dari suatu kelompok dalam melaksanakan suatu tugas.
6. Self-control
Kemampuan untuk mengendalikan emosi diri sehingga mencegah untuk melakukan tindakan-tindakan yang negatif pada saat ada cobaan, khususnya ketika menghadapi tantangan atau penolakan dari orang lain atau pada saat bekerja di bawah tekanan
YANG MANAKAH YANG UTAMA
Implikasi dari kompetensi turunan dari “Basmallah” yang telah diuraikan di awal, dalam dunia bisnis berdasarkan hasil penelitian yang telah ditulis dalam beberapa buku dapat diuraikan sbb :
Dr. Kenneth Blancard (Leadership by The Book) tentang Kepemimpinan yang melayani “Servant Leadership” dimana yang menjadi tolok ukurnya adalah sbb :
(1) Tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya
(2) Memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan orang yang dipimpinnya
(3) Memiliki rasa kasih dan perhatian kepada yang dipimpinya
(4) Memiliki akuntabilitas (bertanggungjawab)
(5) Mau mendengar
(6) Dapat mengendalikan ego
Steven Covey (The 8th Habbits) menulis tentang orang-orang yang dapat melampaui efektivitas dan menggapai keagungan adalah orang-orang yang dapat menemukan “suara hati” dan yang menjadi motivasi dasar untuk dapat menemukan suara hati itu adalah (1) Kebutuhan hidup; (2) Menyayangi; (3) Belajar /tumbuh berkembang ; (4) Meninggalkan nama baik.
Jim Collins (Good to Great : 2004) Menggambarkan Eksekutif yang sukses dengan istilah Kepemimpinan Tingkat 5, yang membangun kehebatan yang bertahan lama lewat bauran paradoks dari Kerendahan hati pribadi dan kemauan profesional.
Anthony Robbins (Unlimited Power) dalam uraian 5 kunci dari kebahagiaan dan kesejahteraan itu salah satunya adalah : selalu berikanlah lebih dari pada yang anda harapkan terima. Dan belajar menangani kepuasan hati.
Tony Buzan (The Power Of Spiritual Intellegence “10 ways to tap into spiritual genius) diantaranya menyebutkan “kasih sayang” dan “memberi dan menerima amak dan syukur.
Apabila merujuk pada hasil-hasil penelitian tersebut sifat-sifat yang dominan adalah yang berasal dari turunan kompetensi Ar-Rahman dan Ar-Rahim maka dapaat disimpulkan bahwa kedua kompetensi itu adalah yang utama.
Kebutuhan kompetensi inipun sudah dibutuhkan oleh manusia sejak terlahir dimuka bumi, kasih dan sayang ibunyalah yang membuat bayi disusui, dimandikan dan dinina bobokan.
DAPATKAH KOMPETENSI TANPA AR-RAHMAN DAN AR-RAHIM
Manusia mempunyai 2 kebutuhan yang harus dipenuhi dalam hidupnya yaitu kebutuhan Jasmani dan Rohani, untuk itu manusia perlu makan dan minum untuk mempertahankan hidupnya (jamani) , dan manusia perlu kasih sayang untuk menjalani hidupnya. (rohani).
sebagai contoh bagaimana bisa orang yang tidak mengerti ilmu (kemampuan) dalam bangunan dapat mendirikan sebuah bangunan yang kokoh, dari mulai pekerjaan menyusun bata demi bata yang dibuatnya sudah tidak simetris, pondasi yang dibuat tidak memperhitungkan tinggi gedung dan kekuatan tanah, maka gedung tersebut tak ayal dalam waktu yang singkat menunggu kehancurannya.
Katakan Tukang bangunan tersebut sekarang sudah memiliki kompetensi / keahlian dalam bidang bangunan, namun mengabaikan kasih sayang, keramahtamaan, kesantunan dalam pergaulan maka bisa jadi dia tidak akan pernah mendapatkan order untuk mendirikan bangunan.
Terkadang kebutuhan akan rohani jauh lebih penting dan utama untuk dipenuhi, banyak orang yang tidak mau makan dan minum untuk sementara waktu karena kebutuhan rohaninya tidak terpenuhi (biasanya karena meninggalnya seseorang) atau misalnya karena kurangnya rasa kasih dan sayang dari orang tua seorang anak bisa tumbuh dengan kurang baik (kompetensi yang lainpun terabaikan).
Apa yang terjadi pada Bangsa kita saat ini , para pemimpin kita sudah kehilangan kompetensi Ar-Rahman – Ar-Rahim, maka yang terjadi adalah malah petaka, ketidakpercayaan, krisis multidimensi yang berkepanjangan walaupun disisin lain mereka memiliki kompetensi yang lainnya.
Sekarang apakah kita hanya akan membaca “Basmallah” saja dalam setiap melakukan aktivitas, atau kita harus memiliki, mengerti dan menerapkan makna yang terkandung dalam “Basmallah” .
Wallahu a’lam bish-shawab.
Awal tahun 2004 mulai getol menggali sisi “spirtual” dalam kajian-kajian manajemen, menambah pengetahuan di program studi MM-Unsri dan sebelumnya mendapatkan basic manajemen di UMU Palembang. Ratusan kelas “motivasi spiritual” pernah dilakoni mulai dari abang becak, penghuni LP sampai karyawan perusahaan dan Birokrat di pemerintahan. Banyak yang dapat dibagi sebagai Investasi “amal yang bermanfaat”