Spiritual Leadership-1
pembicaraan mengenai spiritualitas di tempat kerja telah menjadikan perhatian yang tinggi dikalangan organisasi keilmuan, sehingga semenjak akhir tahun 80an terjadi pergeseran fokus dari teori kepemimpinan behavioural contigency menuju kepemimpinan strategis yang menekankan visi, motivasi dan pengendalian melalui nilai-nilai atau budaya di dalam kelompok yang adaptif terhadap perubahan lingkungan organisasi.
Dari berbagai penelitian diketahui bahwa pengembangan spiritualitas di tempat kerja berpengaruh positif terhadap sikap dan perilaku kerja para karyawan. Antara lain menyangkut kepuasan kerja, komitmen, motivasi, keterlibatan kerja, inovasi, dan produktivitas. Hal-hal tersebut sangat penting bagi efektivitas organisasi secara keseluruhan
Spirituality adalah yang berhubungan dengan kualitas dalam diri manusia seperti cinta kasih, toleransi kesabaran, memaafkan, kepuasan, perasaan bertanggungjawab, perasaan kesesuaian dan utuh yang memberikan kebahagiaan.
Sehingga menurut LW. Fry Kepemimpinan Spiritual itu adalah “ merupakan suatu kumpulan nilai-nilai, sikap dan perilaku yang diperlukan untuk memotivasi diri sendiri maupun orang lain secara intrinsik, sehingga masing-masing memiliki perasaan tangguh bertahan yang bersifat spiritual melalui keanggotaan dan keinginan sendiri.Efek dari kepemimpinan spiritual menimbulkan rasa pengertian/ kebersamaan bagi pemimpin spiritual dan pengikutnya dalam menciptakan nilai kesejahteraan yang strategis, pemberdayaan team,peningkatan level individu, meningkatkan tingkat kesehatan bagi karyawan, komitmen organisasi dan produktivitas dan performance organisasi.
Kepemipinan spiritual itu memerlukan dua hal :
1. Penciptaan visi sehingga anggota-angota organisasi mengalami suatu perasaan terpanggil (sehubungan dengan pekerjaan) memiliki makna dalam hdiupnya, dan merasakan suatu keunikan.
2. Menegakkan suatu budaya sosial/organisasi yang berdasarkan cinta alturistik (tanpa pamrih pribadi) dimana para pemimpin dan anggota anggotanya memiliki perhatian, kepedulian dan pengharagaan yang tulus satu sama lain sehingga menghasilkan suatu rasa keanggotaan dan rasa dipahami dan dihargai.
Dependen variabel yang diukur dalam ekplorasi study kepemimpinan LW Fry adalah :
1. Meaning/calling = Nilai / keterpanggilan hati
2. Organizational commitmen = komitmen dalam berorganisasi
3. Productivity = produktivitas
4. Persentage sales growth = persentase pertumbuhan penjualan
5. Distributor profit = keuntungan distribusi
Dari hubungan-hubungan antara variabel tersebut dibuat hypotesa, yaitu sbb :
KOMITMEN BEROGANISASI = Karyawan dengan suatu perasaan keterpanggilan sebagai anggota organisasi akan tetap menyatu untuk setia , dan ingin tinggal di dalam organisasi yang mempunyai kultur berdasar pada nilai-nilai cinta yang rendah hati (altruistic love)
PRODUKTIVITAS DAN PERBAIKAN TERUS MENERUS = karyawan yang mempunyai keyakinan dan harapan di dalam visi organisasi dan penglamanan keterpanggilan sebagai anggota perusahaan akan “melakukan apa yang menjadi tugasnya” dan mengejar visi untuk terus menerus berimprovisasi and menjadi lebih produktive.
KEUNTUNGAN DAN PERTUMBUHAN PENJUALAN = komitmen yang tinggi dari karyawan yang produktip yang mana telah termotivasi untuk berimprovisasi terus menerus merupakan proses kunci organisasi yang juga akan memotivasi produksi dengan kualitas produk yang tinggi, pelayanan kepada pelanggan yang prima akan terepleksikan di dalam keuntungan perusahaan yang tinggi dan peningkatan penjualan.
Ada apa “karakter” bangsa Indonesia-1
Negeri ini dikenal oleh bangsa-bangsa luar dari dua sisi , sisi yang pertama adalah Fisik [jasmani] yaitu berupa Kekayaan, Keindahan dan kesuburan alam, tak salah lagi sampai-sampai dilukiskan sebagai hamparan zamrud di khatulistiwa dan penulis yakin para pembaca mungkin masih ingat dan terngiang syair dari sebuah lagu ”orang bilang tanah kita tanah sorga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Sisi yang kedua adalah Non Fisik [karakter] Bangsa Indonesia yang dikenal dengan keramahtamahan, sopan santun dan semangat gotong royong sehingga karakter-karakter tersebut membentuk budaya bangsa ini. Dari kedua sisi tersebut manakah yang lebih penting ? Fisik [jasmani/raga] atau Non fisik [rohani/jiwa/karakter]. Ternyata kekayaaan, keindahan dan kesuburan alam tersebut yang merupakan sumberdaya fisik kita tidak cukup untuk membawa kemakmuran kepada bangsa ini. Ketika masyarakat menjerit karena sulitnya mendapatkan beras dan hanya dapat menikmati nasi ’aking’ (yang tadinya untuk makan hewan peliharaan) karena harga beras sudah tidak terjangkau lagi oleh mereka seiring itu pula beras menghilang dipasaran dan betapa pilu hati melihat berjubel-jubelnya rakyat antrian untuk sekedar mendapatkan 5 liter minyak tanah, dan hiruk pikuknya desak-desakan untuk mendapatkan ”Bantuan Langsung Tunai”, kemana negeri yang subur, makmur, dan kaya raya itu.
Sementara itu negeri yang dikenal dengan keindahan alamnya inipun terus menerus diporak porandakan oleh berbagai macam bencana; angin topan, banjir, tsunami, tanah longsor sampai-sampai lumpur Lapindo, tidak cukupkah semua ini untuk kita mempertanyakan Ada Apa Dengan Indonesia ? Mari kita renungkan apakah ini jawaban dari semua yang kita alami ini, Allah SWT menjelaskan dalam Alquran surat Al-Araaf [7]:96,artinya : Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya
Dari ayat tersebut kita dapat melihat bawah titik tolak dari semua yang kita alami ini adalah Perbuatan kita. Bagaimana proses seseorang itu sampai dapat melalukan suatu tindakan (perbuatan) dalam kehidupan sehari hari yang pada akhirnya dapat menjadikan karakter bagi diri seseorang. Dalam Teori Belief System diuraikan bahwa awal tindakan berasal dari pikiran, kemudian terucap, lalu menjadi perbuatan kemudian perbuatan berlangsung berulang-ulang dan menjadi kebiasaan, dan akhirnya kebiasaan inilah yang menjadi karakter.
Awal tahun 2004 mulai getol menggali sisi “spirtual” dalam kajian-kajian manajemen, menambah pengetahuan di program studi MM-Unsri dan sebelumnya mendapatkan basic manajemen di UMU Palembang. Ratusan kelas “motivasi spiritual” pernah dilakoni mulai dari abang becak, penghuni LP sampai karyawan perusahaan dan Birokrat di pemerintahan. Banyak yang dapat dibagi sebagai Investasi “amal yang bermanfaat”