Ansoritoyib’s Blog

Kenali Diri-Gali Potensi-Ukir Prestasi

Change “kepompong” Management-1

Change slogan kata yang diusung oleh Barrack Obama dalam pemilihan Presiden di Negara Adi Kuasa ini berhasil menarik simpati dari warga Amerika Serikat yang akhirnya menjadikan dia orang kulit hitam pertama menjadi presiden di negeri paman sam tersebut.
Demikian pula di negeri tercinta ini, ramai-ramai kaum politikus teriak pembawa angin perubahan, tak kurang gencarnya mereka yang disebut-sebut sebagai aktor intelektual bangsa inipun berteriak yang sama.
Dalam era reformasi dan ditengah kancah bergulirnya pilkada dimana-mana; dan sebentar lagi pilpres, isu yang dijualpun adalah “change” perubahan nasib bangsa ini.
Euforia “change” tidak saja menerpa dunia politik tetapi dunia usahapun tak kalah gencarnya, banyak perusahaan berlomba-lomba menerapkan langkah-langkah manajemen perubahaan, tak ingin program ini gagal maka dibentuklah “TIM TRANSFORMASI BISNIS” atau “ AGENT OF CHANGE”
Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini begitulah untaian kata yang sudah sangat sering kita dengar. Namun pada kenyataannya kata kata itu tak begitu mudah untuk meraihnya, begitu banyaknya kendala yang dihadapi dalam mewujudkan suatu “perubahan” sehingga memerlukan suatu seni untuk mengatasinya, maka munculah manajemen perubahan.
Manajemen perubahan sendiri sudah diperkenalkan oleh Kurt Lewin (Field Theory in social science :1951) yang juga dikenal dengan Bapak Manajemen perubahan. Penelitian-penelitian mengenai “perubahan” mulai terkenal pada awal tahun 1990an ditandai dengan munculnya konsep Managing Change Questionare (MSQ; Burke) yang digunakan untuk meneliti pengetahuan dan pemahaman tentang isu perubahan organisasional antara manajer dan eksekutif di antara kelompok industri yang berbeda.
Mengapa harus berubah ?

Kemajuan ilmu pengetahuan berkembang pesat dan melahirkan berbagai teknologi dan manajemen yang modern seperti : Digital convergence, Virtual organizations, Mergers & acquisitions, Electronic commerce, Knowledge economy, semua ini tentunya mengakibatkan tuntutan perubahan dalam organisasi bisnis menjadi : proses bisnis yang cepat dan akurat, birokrasi yang singkat, biaya rendah, proses produksi dan pemanfaatan sumberdaya yang efisien, serta pemanfaatan jaringan bisnis adalah merupakan suatu keniscayaan.
Kemampuan “organisasi perusahaan” untuk tetap dapat bertahan hidup, sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi untuk berubah, yaitu : menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan bisnis yang dihadapi atau menyesuaikan diri dengan potensi perubahan yang akan terjadi di masa datang.
Sedangkan kemampuan organisasi untuk berkembang ditentukan oleh kemampuan organisasi dalam menciptakan perubahan dan kemampuan organisasi untuk berubah ditentukan oleh seberapa hebatnya sumberdaya manusia (SDM) yang dimiliki organisasi dalam melakukan perubahan. Konsep employee empowerment menjadi prasyarat untuk membangun hi-flex organization suatu organisasi yang mampu beradaptasi dengan cepat, bahkan dengan cepat menciptakan perubahan untuk merespon perubahan lingkungan bisnis yang telah terjadi atau potensial akan terjadi (Mulyadi, 1997).

Sekarang sudah sepatutnya kita bertanya, adakah yang mesti kita ”ubah” dalam organisasi perusahaan kita? Dan siapa yang akan mengubahnya?

Untuk menyikapi perubahan lingkungan yang berdampak negatif kepada organisasi perusahaan ataupun kehidupan pribadi kita, tentunya kita tidak akan berdiam diri dengan meratapi keadaan yang ada pada kita, atau kita cepat mengatakan sudah ”nasib” yang harus kita terima.

Maret 1, 2009 - Posted by | Seri Manajemen SDM

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.