Change “kepompong”manajemen-2
Dalam melaksanakan perubahan banyak cara dan alat yang digunakan, namun sayangnya alat manajemen yang digunakan kebanyakan fokus kepada sisi teknis operasional organisasi perusahaan, sedangkan yang tidak boleh kita lupakan bahwasanya dalam perubahan itu mempunyai dua sisi, yaitu : sisi teknis dan sisi manusia. Bahkan banyak kegagalan dalam melakukan perubahan dikarenakan faktor manusia.
Alat bantu manajemen yang bisa dipakai untuk memacu perubahan dalam perusahaan, seperti : BCG Matrix, Benchmarking, Brain-storming, Business Process Reengineering, Six Sigma, Porter Five Forces, Statistical Process Control, SWOT Analysis, PEST Analysis, Value Chain Analysis, dan sebagainya, sekarang masalahnya adalah : Bagaimana dengan sisi manusia, alat apa yang akan digunakan untuk mengubahnya ?.
”The man behind the gun” secanggih apapun teori atau alat yang digunakan namun kalau manusianya ”payah” maka semuanya tak akan menemui sasaran yang diinginkan dalam perubahan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rad:11 :
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri
Dengan demikian sesungguhnya yang memegang kunci dalam perubahan adalah ”manusia” dan yang paling membahayakan dari perubahan itu adalah ”perilaku”. Semenjak manusia pertama diciptakan dan silih bergantinya ummat manusia ”perilaku” manusialah yang telah mengubah kehidupan manusia itu sendiri, untuk itu Allah SWT mengutus Nabi dan Rasulnya dalam rangka meluruskan/menyempurnakan perilaku manusia agar sesuai dengan sunatullah. sebagaimana Rosul Muhammad SAW bersabda ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” (Hadist Riwayat Ahmad, dari Abu Khurairah)
Perilaku itu terbentuk dari tindakan-tindakan yang dilakukan, baik itu tindakan sadar ataupun tindakan tidak sadar. Tindakan sadar berarti bahwa manusia melakukan suatu tindakan dengan unsur kehendak atau motif, sedangkan tindakan tidak sadar tidak mengandung unsur kehendak. Dari kedua bentuk perilaku ini tindakan sadarlah yang akan dipertanggungjawabkan manusia dihadapan Allah SWT. Karena perilaku inilah yang biasanya juga menjadi wilayah pembahasan tentang akhlak dan kepribadian
Akhlak menurut Imam Al-Ghozali adalah ungkapan tentang sikap jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan tidak memerlukan pertimbangan atau pikiran terlebih dahulu, Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu khalaqa-yahluqu, yang artinya menciptakan. Dari akar kata ini juga asal kata makhluk (yang diciptakan) dan kata khalik (pencipta), maka akhlak berarti segala sikap dan tingkah laku manusia yang datang dari pencipta (Allah swt) atau perilaku manusia yang sesuai dengan kehendak Sang Khalik.
Lantas apa beda antara akhlak dan moral, moral sendiri berasal dari maros (bahasa latin) yang artinya kebiasaan atau perilaku yang dibentuk, yaitu sifat yang semula tidak ada dalam sifat bawaan seseorang namun didapatkan dari pengaruh lingkungan, pengalaman, pendidikan dan latihan. Hal ini cakupannya lebih luas, dalam islam dikenal dengan istilah Akhlak Muktasabah, sedangkan Akhlak bawaan yang melekat dalam diri seseorang dari semula diciptakan disebut Akhlak Fitriyah.
Begitu pentingnya akhlak / perilaku ini dalam kehidupan, dapatlah kita perhatikan sabda baginda Rasulullah shalallahualaihi wa sallam “Sesuatu yang paling berat dalam mizan (timbangan seorang hamba) adalah akhlak yang baik” (HR. Abu Daud dan Ahmad) dan dalam hadist yang lain dari Jabir radhiallahuanhu berkata Rasulullah SAW “Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku majelisnya di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.(HR. Tirmidzi,

Awal tahun 2004 mulai getol menggali sisi “spirtual” dalam kajian-kajian manajemen, menambah pengetahuan di program studi MM-Unsri dan sebelumnya mendapatkan basic manajemen di UMU Palembang. Ratusan kelas “motivasi spiritual” pernah dilakoni mulai dari abang becak, penghuni LP sampai karyawan perusahaan dan Birokrat di pemerintahan. Banyak yang dapat dibagi sebagai Investasi “amal yang bermanfaat”